Select Page

Main
Dunia anak adalah bermain dengan melakukan segala yang menyenangkan sekaligus pembelajaran. Energi anak tidak kunjung habis, begitu juga rasa ingin tahunya. Anak bereksperimen dengan gerak tubuh dan menyentuh segala yang menarik baginya. Atas dasar itu pula, anak sering dicap sebagai ‘nakal’, ‘tidak bisa diam’, dan kata tidak pantas lainnya untuk diterapkan kepada makhluk kecil yang belum berdosa.
Anak terlahir dengan tidak mengenal angka dan huruf, tidak memiliki tata krama serta acuh terhadap sosial. (Stanford Encyclopedi of Philosophy, Philosophy of Education, 2013) Jika kalimat “setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru” itu benar, maka semua orang bertanggung jawab atas kegagalan Pendidikan sekaligus dampak kerusakan besar yang ditimbulkannya.

 

Signs of Educational Failure (?)
Adanya anak bangsa yang menangkap dan menjual hewan endemik asli Indonesia adalah bukti ketidakpahaman dan rendahnya kesadaran atas pentingnya menjaga serta memelihara warisan bangsa.
Intimidasi dan praktik kekerasan yang dilakukan anak terhadap teman sebaya dapat menjadi tanda tidak ditanamkannya rasa cinta kasih terhadap sesama manusia.
Dilumrahkannya penggunaan bahasa vulgar dan kasar oleh anak, serta perilaku yang tidak sesuai dengan budaya dan agama merupakan sinyal lemahnya masyarakat sebagai kontrol sosial.
Pemberitaan tentang anak yang melakukan tindakan khas kaum ekstrimis yang intoleran dan tidak dapat berdemokrasi dengan baik merupakan salah satu wujud nyata kegagalan pengajaran nilai kenusantaraan.
Adanya anak yang tidak memahami suku bangsa serta bahasanya sendiri berarti kebudayaan Indonesia punah secara berangsur dan tanda bahwa transfer serta praktik kebudayaan tersebut terhenti.
Ketidakharmonisan dalam keluarga dan kehidupan bermasyarakat mampu membuat individu kehilangan kepercayaan yang berdampak pada bunuh diri.
Ada sebagian karya anak bangsa, yang luas dipublikasikan, tidak mencerminkan nilai dan budaya Indonesia secara tidak langsung menunjukkan sikap permisif terhadap orang lain untuk berlaku serupa.

 

Konservatif & Progresif
Pendidikan anak di Indonesia harus untuk bersifat konservatif terhadap nilai budaya, agama dan adat ketimuran agar tidak punah. Pemahaman terhadap perbedaan, toleransi, demokrasi dan cinta lingkungan penting untuk ditumbuhkan pada anak agar tercipta harmoni kehidupan. Anak perlu diajarkan bagaimana menjadi seorang ‘Indonesia’ agar Pesta 17-an tidak sebatas perayaan, tetapi regenerasi nilai luhur bangsa.
Selain itu, Pendidikan juga perlu bersifat progresif agar dapat beradaptasi dengan seluruh kemajuan di abad 21. Kemajuan yang ada merupakan kesempatan bagi anak untuk belajar dengan cara yang lebih baik agar dapat meningkatkan kualitas dirinya, dan bukan sebaliknya. Masyarakat sangat dibutuhkan sebagai pengendali sosial agar setiap kebaruan dapat disaring sesuai dengan jati diri bangsa.

 

Rayakan 17-an dengan Bermain
Melibatkan anak dalam Pesta Ulang Tahun Indonesia ke-72 akan menyenangkan hatinya karena merasa diberikan kepercayaan dan belajar hal baru. Hal kecil yang dilakukan anak merupakan kebanggaan terhadap dirinya yang dapat meningkatkan rasa percaya diri. Jika anak melakukan kesalahan, maka percayalah kesalahan dalam proses belajar, lebih baik dari kesalahan yang mungkin ia perbuat ketika dewasa. Oleh sebab itu, berilah anak arahan dan pemahaman tentang dunia disekitarnya dengan baik.
Mengenalkan permainan yang ada dalam Pesta Ulang Tahun Indonesia ke-72 serta nilai yang terkandung didalamnya dapat menginspirasi anak agar mempraktikannya dalam keseharian. Dapat pula dengan memberikan contoh kegiatan lain dengan muatan nilai serupa agar penalaran anak berkembang. Dengan begitu, tanggung jawab kita sebagai masyarakat untuk kontrol sosial sekaigus melestarikan budaya terpenuhi. Tidak hanya itu, tugas kita sebagai ‘guru’ juga terlaksana dan regenerasi nilai-nilai luhur terjadi.